Tuesday, March 24, 2009

Sebuah Renungan yang Sibuk Berkarir

Seperti biasa Sang Ayah, tiba dirumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sang Anak yang baru duduk dikelas 3 SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama. "Kok belum tidur?" sapa Sang Ayah sambil mencium anaknya. Biasanya Sang Anak memang sudah lelap tertidur ketika Sang Ayah pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor lagi.

Sambil membuntuti Sang Ayah menuju ruang keluarga, Sang Anak menjawab,"Aku menunggu Ayah pulang, sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?". "Lho,tumben kok tanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi,yah?" "Ah,tidak Ayah,Pengen tahu saja."
Oke kamu boleh hitung sendiri, setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu dan Minggu Ayah masuk untuk lembur. Jadi,gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo? Sang Anak berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajarnya, sementara Sang Ayah melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Sang Ayah beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sang Anak berlari mengikutinya.
"Kalau satu hari Ayah dibayar Rp.400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp.40.000,- dong," katanya. "Wah,pintar kamu. Sudah, sekarang cuci kaki,lalu tidur" perintah Sang Ayah.

Tetapi Sang Anak tak beranjak, sambil melihat Sang Ayah berganti pakaian. Sang Anak bertanya kembali,"Ayah aku boleh pinjam uang Rp.5000,-,nggak?".
"Sudah,nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek dan mau mandi dulu. Tidurlah. "Tapi, Ayah...."Kesabaran Sang Ayah habis."Ayah bilang tidur!"hardik Sang Ayah mengejutkan Sang Anak. Sang Anak pun berbalik menuju kamarnya. Usia mandi,Sang Ayah nampak menyesali hardikannya.Ia pun menegok Sang Anak dikamarnya.

Anak kesayangannya itu belum tidur. Sang Anak didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp.15.000,- ditangannya.Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Sang Ayah berkata,"Maafkan Ayah, nak. Ayah sayang sama kamu. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok saja bisakan?.Jangankan Rp.5000,- lebih dari itu pun saya berikan."

"Ayah, aku nggak minta uang. Aku Pinjam.Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini."Iya,iya tapi buat apa?" tanya Sang Ayah lembut."Aku menunggu Ayah dari jam 8,aku mau ajak Ayah main ular tangga.30 menit saja.Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu Ayah.Aku buka tagunganku,ada Rp.15.000,- Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp.40.000,- maka setengah jam harus Rp.20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp.15.000,- makanya aku mau pinjam dari Ayah," Kata Sang Anak polos.

Sang Ayah terdiam,ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Sang Ayah menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini,tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.
Semoga cerita ini bisa menjadi renungan buat kita, terutama yang sibuk berkarir.

No comments:

Post a Comment